18 January 2019

Ducati Miliki Tiga Kandidat Kuat Untuk Disandingkan Dengan Dovizioso Tahun 2020 Nanti!!!


YKGP - Hallo gaez, langkah cerdik dilakukan oleh Ducati untuk mengarungi balap pada masa-masa yang akan datang, di tim ini terdapat 4 pembalap yang kuat baik di skuat utama yaitu Dovi dan Petrucci dan juga di tim satelitnya dengan Pecco Bagnaia dan Miller. Posisi Dovi sudah dipastikan aman untuk 2020 karena kebanggkitan Ducati tak lepas dari sosok Dovi, tinggal menentukan tandemnya saja, yups kursi ini akan diperebutkan oleh Petrucci, Pecco dan Jack.


Hal yang menarik adalah durasi kontrak yang disodorkan ke Petrucci, jika biasanya rider diikat kontrak 2 tahun di tim utama, namun tidak demikian dengannya, ia hanya menandatangani kontrak selama setahun atau satu musim saja, ini mengindikasikan bahwa manajemen masih mencari tandem yang tepat buat Dovi, Petrucci sendiri selama mengikuti test baik di Valencia maupun Jerez mendapatkan hasil yang cukup memuaskan dan, iapun terkesan dengan paket kendaraan teranyar, tinggal pembuktian dirinya adalah termasuk pembalap papan atas, walaupun manajemen sudah mewanti-wanti untuk tidak menggangu Dovi di track, namun jika kesempatan ada dan memungkinkan untuk mengungguli Dovi kenapa tidak? itu merupakan bonus sempurna  dari kerja kerasnya, dan sekaligus mengamankan misi untuk tetap di skuat utama.


Francesco "Pecco" Bagnaia dikontrak jauh jauh hari sebelum musim 2018 berakhir, bahkan sebelum Moto2 resmi bergulir di 2018, eeediian gak tuh langkah dari ducati, dan belum pasti apakah ia mampu untuk melewati Moto2 dengan rapor yang bagus, langkah yang sangat berani menurut saia apa yang di ambil oleh Ducati. Perjudian yang di lakukan oleh manajemen ternyata membuahkan hasil, seiring waktu ia berhasil mengamankan juara dunia Moto2 tahun 2018, dan juga mendapatkan hasil yang bagus juga pada test Valencia dan Jerez, namun biasanya rider debutan biasanya mengalami kesulitan di tahun pertamanya saat masuk ke track MotoGP, namun ini adalah tantangan tersendiri bagi Pecco terlebih ia hanya mendapatkan paket motor 2018, apakah bisa sukses seperti Marc Marquez ketika langsung bisa juara dunia ketika tahun pertama menjajaki MotoGP bersama Honda, kita tunggu saja,...


Jack Miller jangan dianggap remeh, ia mampu membuktikan kapasitasnya untuk menjadi rider papan atas, beberapa kali ia mampu meraih pole dan sempat juga merasakan podium, ia adalah pembalap yang bisa dikatakan agresif, ia mampu memanfaatkan peluang dengan manuver overtaking yang atractiv, namun ada sisi lemahnya. Ia adalah pembalap yang ceroboh, masih kurang mampu untuk mengendalikan diri dan motornya, di pertarungan sengit acapkali ia kehilangan posisinya karena crash, PR utama Miller adalah itu, ia harus mampu lebih kalem dalam mengambil keputuasan jika ingin promosi ke tim utama.

Dengan 4 pembalap yang kuat, Ducati seakan-akan mempunyai strategi keroyokan untuk meredam laju dominasi Honda,seperti yang kita ketahui Dovi dua kali nyaris mendapatkan titel gelar juara ketika menjadi pesaing utama Marquez  dua tahun terakhir ini. Terlepas dari hasil apapun dari ketiga pembalapnya itu, Ducati mempunyai banyak opsi dan leluasa untuk memilih siapakah nanti yang akan bertandem dengan Dovi. strategi cerdas untuk membidik gela juara dunia setelahterakhir kali di persembahkan oleh Casey Stoner di 2007 lalu.

Arrivederci,...
Read more

15 January 2019

Dianggap Tim Gurem, Aprillia Bertekad Hapus Keinferioran Di MotoGP 2019


YKGP - Hallo gaez, dengan kedatangan seorang Ianone menjadi tandem Aleix Espargaro dan juga merekrut Bradley Smith dari Ducati untuk menggantikan Sam lowes menjadi pembalap pengujinya, bukan hal yang tidak mungkin jika Aprillia ingin megangkat tim asal Italia ini menjadi tim yang patut di waspadai di kalender MotoGP musim 2019 ini. Apa pasal? memang tahun lalu tim ini bisa disebut sebagai tim gurem, tim yang inferior kalah jauh tertinggal dari tim senegaranya Ducati.

Mungkin ini baru tahap awal, dengan meminang mereka berdua, tim dari Noale, Italia ini ingin pengalaman mereka berdua dari tim pabrikan yang kuat membawa dampak yang selangkah lebih baik dari tahun lalu, Ianone 4 tahun berpengalaman dengan 2 tahun di Ducati dan Suzuki, kemudian pengalaman Smith di KTM diharapkan bisa membawa RS-GP menjadi motor yang lebih baik.


Albesiano sadar betul jika arah pengembangan dari RS-GP belum menemukan arah yang tepat, terlihat di 2018 para pembalapnya kesulitan untuk memahami tunggangannya itu, seperti kehilangan keseimbangan di motornya, dan pembalappun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, beruntung dengan pengalaman Ianone, Aprillia mendapatkan angin segar, mereka cukup puas dengan hasil test Valencia dan Jerez yang didapatkan oleh Ianone, walaupun Ianone mengatakan bahwa ia sempet pesimis dengan Aprillia namun, tidak seburuk yang ia pikirkan, ia mengatakan bahwa Aprillia sudah memiliki modal untuk bisa bersaing di papan atas.

Well dengan dengan rekrutan anyarnya itu, Albesiano selaku orang yang bertanggung jawab penuh untuk pengembangan RS-GP memiliki cukup modal untuk mengembangkan motornya ke arah yang tepat, banyak masukan dari Ianone dan Smith dari pengalaman mereka sebelumnya, dengan konfigurasi mesin (V) sudut kecil, memang RS-GP adalah motor yang spesifik dalam artian berbeda dengan motor pabrikan lainnya walaupun memiliki basis yang sama.


Bahkan Ianone memberi masukan bahwa motor yang ia tunggangi sebelumnya lebih konvesional daripada RSGP, nah masukan masukan seperti inilah yang diperlukan untuk arah pengembangan motor, dan juga tak tanggung-tangung, demi membuat Aprillia tak mau dianggap sebagi tim gurem, mereka merekrut mantan petinggi tim F1 Ferrari, Massimo Rivola sebagai CEO Aprilia Racing.

Dengan perombakan besar-besaran dari Aprillia, mungkin merekamemiliki modal yang cukup untuk membuat resep yang jitu untuk membuat RS-GP menjadi lebih kompetitif tahun 2019 ini.


Arrivederci,...
Read more

Debut Bersama Honda, Lorenzo Tidak Psang Target Terlalu Tinggi


YKGP -  Hallo gaez menjelang debutnya bersama Honda untuk mengarungi MotoGP musim 2019 ini, ia tidak mematok target yang tinggi, pasalnya ia berfikir realistis tentang posisinya di kubu Honda, ia pun suga merasa nyaman dengan tunggangan barunya itu, namun ia tetap perfikir realistik dengan peluanggnya di tahun ini, ia memilih bergabung dengan honda ketika memasuki  satu setengah tahun bersama Ducati, di sana ia merasa terabaikan. Sehingga ia memutuskan untuk menerima pinangan dari Honda walaupun nilai kontraknya menurun drastis.

Ia tak tahu pasti jika ia bisa kompetitif untuk perebutan gelar juara pada tahun ini, ia akan melawan rival-rival yang kuat dari pembalap dari masing masing tim, Petrucci dengan GP19 cukup bagus, Rins mulai menanjak performanya, Rossi masih bisa dikatan tangguh, walaupun strunggle di 2018 kemarin tetapi terbukti Rossi masih bisa mengamankan posisi 3 klsemen akhir di wabah Dovi, Dovi juga semakin kuat dengan 2 tahun berturut turut menjadi yang terkuat dalam perebutan Juara dunia, terlebih ia kan melawan rekan sekaligus rivalnya setim yaitu Marc yang begitu mendominasi dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun begitu ia tetap akan mencoba dari awal seri nanti di Qatar dan juga sekaligun ajang evaluasi dirinya dengan menunggangi RC213V.


Di musim 2019 ini, Honda memiliki duet terkuat dalam sejarah MotoGP yaitu Marquez dan Lorenzo, mereka adalah juara dunia tujuh musim terakhir di MotoGP. Angka dan fkata tidak akan berbohong, jelas mereka berdualah salah satu pasangan terkuat sepanjang sejarah MotoGP, dengan duet ini kemungkinan besar dalam perebutan gelar juara konstruksi nyaris milik Honda, namun balapan tidak hanya berdasarkan statistik, yang pasti khalayak sudah tidak sabar menunggu untuk melihat duel dalam satu team ini, apakah akan sepanas Lorenzo dan Rossi ketika masih diyamaha? well time will tell lah,....


Danke,..


Read more

14 January 2019

Dimensi YZR-M1 Terlalu Besar Bagi Maverick Vinales


YKGP - Hallo gaez, memang dengan postur yang hanya 165cm Vinales tergolong ppembalap yang mungil untuk kelas MotoGP ini, hal inilah yang mendasari keluhannya terhadap Yamaha, ukuran motornya masih terlalu besar, karena basis dari motornya adalah comotan dari Valentino Rossi rekan setimnya itu yang notabene mempunyai tinggi badan 180cm.

Sejatinya Maverick sudah meminta untuk memperkecil dimensi motornya ketika mengawali debutnya bersama Yamaha, namun Yamaha masih urung mengakomodir keinginan dari Top Gun itu. Ia mengakui bahwa saat masih di Suzuki ia merasa nyaman dengan dimensi yang dimiliki oleh GSX-RR, dengan mengantarkan Suzuki naik podium di beberapa seri, dan cukup merepotkan para rival-rivalnya.


Kemungkinan besar karena basis dari mesin Yamaha adalah Inline4 maka dimensi motor akan lebih lebar, akan tetapi suzuki juga memiliki basis mesin yang sama Inline4 juga, namun Maveric merasa nyaman ketika di Suzuki, memang tidak bisa serta merta merombak basis motor secara keseluruhan, namun Maverick menginginkan ada beberapa ubahan di detail mesin dan part aerodinamikanya, ia menyakini bahwa akan mengakomodir keinginnannya untuk menjadikan dimensi tunggangannya lebih kompak dan padat.

Dan saia berkeyakinan ia akan lebih ngotot menyuarakan keputusan teknis kepada Yamaha karena Maverick lah yang mengakiri puasa 25 balap tanpa podium ketika race di Philip Island kemarin, karena pada awal 2018 kemarin ia juga sudah mengutarakan keinginnanya itu, namun ia tidak terlalu ngotot, kemungkinan tahun ini ia akan ngotot terkait permintaan teknis mengingat jasanya tersebut. Oh iya FYI, di kalender MotoGP 2019 ini ia kakan berganti nomor dari 25 menjadi 12, ini adalah nomor ketika ia mulai balapan di kelas Grand Prix.



Danke,...

Read more

Inilah Alasan Tech3 Pilih KTM Pasca Cerai Dari Yamaha


YKGP - Hallo gaez, jika kita membicarakan Tech3 pastinya terngiang di ingatan bahwa Tech3 adalah Yamaha, pasalnya adalah kolaborasi mereka memang sudah cukup lama gaez, sudah 20 tahun mereka kerjasama, namun sayangnya keputusan yang sangat sulit dan berat harus di lakukan ketika kalender MotoGp 2018 lalu, ketika Tech3 memutuskan kerja samanya dengan Yamaha setelah 2 dekade tak terpisahkan.

Keputusan itu harus diambil oleh Tech3 karena rumor menyebutkan bahwasanya mereka seperti di anak tirikan oleh pabrikan, ketika sang pembalap Zarco dan sang boss Herve Porcharal meminta suplay paket motor teranyar untuk timnya, mengingat Zarco yang begitu impresif pada musim sebelumnya, harusnya didukung oleh paket motor yang mumpuni, jika ingin bersaing dengan para rivalnya, namun urung di lakukan oleh Yamaha.


Pucuk dicinta ulampun tiba, mungkin KTM sudah mengendus gelagat Tech3 ini jauh jauh hari, KTM menawarkan kontrak  dengan durasi 3th untuknya, dengan sodoran yang sulit di tolak oleh Tech3 yaitu akan diberikan paket motor sama dengan pabrikan, maka dengan ini awal 2018 Tech3 pun langsung menandatangani kontrak tersebut, walaupun ketika itu rumor banyak mengarah ke Suzuki yang sangat ngebet menginginkan tim satelit.

Namun baru baru ini Tech3 menyatakan bahwa alasan mereka memilih KTM adalah pada tahun ini mereka aktif di semua kelas MotoGP, Moto2, dan Moto3, dengan keikutsertaannya di semua level Poncharal melihat betapa seriusnya KTM dalam develolopmentnya, Herve Poncharal memuji sang pabrikan Austria atas keikutsertaannya dalam semua kelas di kejuaraan dunia Grand Prix. Inilah uang  mendasari keinginannya untuk bisa menyatukan timnya dengan KTM.



Danke,...
Read more

02 January 2019

Zarco Ingin Taklukkan KTM RC16,Layaknya Lorenzo Jinakkan Ducati Desmosedici,Mampukah?


YKGP - Hallo gaez, pada 2 sesi tes pramusim yang seacara resmi di gelar oleh Dorna di Valencia dan Jerez,Spanyol kemarin, performa Zarco memang belum menyakinkan, terlihat ia begitu kesulitan untuk beradaptasi dengan motor barunya itu, cacatan waktunya pun masih kurang memuaskan, malahan kalah telak oleh Nakagami yang berhasil menjadi yang tercepat di hari kedua test Jerez.

Namun begitu ia bertekad untuk sesegera mungkin memahami karakter paket motor anyarnya itu, dengan berbekal hasil 2 kali crash di test Valencia dan menghuni time-sheet jajaran bawah adalah bukan suatu hal yang lumrah bagi Zarco dan mungkin adalah unacceptable result. Ia harus segera memperbaiki itu di test berikutnya, ia harus benyak belajar atau setidaknya mengikuti cara seseorang yang bisa beadaptasi dengan cepat ketika beralih ke garasi sebelah? siapakah itu? tentunya harus banyak belajar dari Lorenzo.


Mengapa harus belajar dari Lorenzo? ya Lorenzo gaez, ada kolerasi yang saia coba akan jabarkan disini, Lorenzo adalah sosok yang saat ini menurut saia adalah orang yang paling sukses beradaptasi dengan tim anyarnya semenjak hengkang dari Yamaha, ia hanya butuh  satu setengah tahun untuk dapat menjinakkan Desmosedici, ketika itu sama kasusnya dengan Valentino Rossi yang mencoba menaklukkan Desmosedici, namun ia harus menyerah selama 2 tahun tidak mampu menjinakkan GP11/GP12 dan kembali lagi ke Yamaha di tahun 2013

Kemudian adalah Dovi baru mampu selaras dengan tunggangannya dengan beradaptasi selama 3 tahun, Lorenzo hanya butuh satu setengah tahun untuk mampu seirama dengan Desmosedici, oleh karena itu Lorenzo lah yang setidaknya bisa dijadikan referensi jika ingin segera bisa menunggangi GP19 sesuai dengan keinginannya. Kemudian adalah Lorenzo juga bisa dengan cepat beradaptasi dari karakter mesin In-Line4 ke V4 sama juga dengan Zarco, yang membedakan adalah jika lorenzo dari Inline4-Pneumatic ke V4-Desmodromic lain halnya dengan Zarco yang dari Inline4-Pneumatic lari ke V4-Pneumatic. tentunya karakter mesinya akan beda gaez.


Kemudian pasca Lorenzo berhasil menjinakkan GP18 tak serta merta menjadi motor Desmosedici yang rasa YZR-M1 yang lebih kalem dan smooth, Ducati tidak kehilangan jati diri dan DNA sebagai motor yang beringas dan sulit dikendalikan, penyakit GP18 yang sulit diajak belok tidak bisa di sembuhkan oleh Lorenzo, Namun pinternya Lorenzo adalah ia bisa mengenal karakter motornya ini dan ia tidak merubah motornya sesuai dengan riding style dirinya, tapi sebaliknya ialah yang menyesuaikan dengan motornya, dengan ubahan kecil di tankpad dan ubahan sedikit di sektor set-up motornya. Inilah yang membedakan kegegalan Rossi 2011 silam, Rossi ingin karakter motornya yang mengikuti riding style miliknya, bukan sebaliknya.


Terbukti dengan hattrick podiumnya ketika memasuki paruh kedua musim 2018 lalu, ia begitu beringas ketika bertarung dengan Marc, riding style berubah tidak seperti layaknya ketika masih mengunggangi M1 dari yamaha begitu kalem bin smooth ketika overtake. Nah inilah poin penting yang hatus di adaptasi oleh Zarco dari seorang Lorenzo, Kenali dulu motornya, geber sampai semaksimal mungkin sampai ketahuan batasan motornya itu sampai mana.

Dan ketika sudah ketemu barulah mulai beradaptasi mulai dari sektor sektor yang mungkin terabaikan, walaupun kecil dampaknya akan sangat luar biasa, contoh nyatanya adalah tankpad Lorenzo yang mengalami beberapa kali update sebelum desain yang seperti sekarang ini.


Nah begitulah penjabaran dari saia, kalian boleh tidak sependapat dengan saia,....

Arrivederci,...
Read more

01 January 2019

Sepanjang Musim 2018 Ducati Sangat Kompetitif,Inilah Penyebabnya Gaez!!!

YKGP - Hallo gaez, potensi motor Ducati untuk bisa bersaing dengan pabrikan raksasa Yamaha dan Honda diawali dengan rengkuhan gelar pertamanya oleh Casey Stoner setelah pindah dari Honda pada 2007, dan setelah itu nyaris hanya nangkring di 5 besar posisi akhir, ironisnya lagi setelah lepas dari Ducati dan berlabuh kembali ke Honda ia menjadi juara dunia lagi pada tahun pertamanya di tahun 2011, Stoner adalah penakluk pertama Desmosedici.

Kemudian pada 2014 Dovi hadir menggantikan Valentino Rossi yang gagal total selama dua musim di Ducati, ia bukanlah Stoner yang langsung bisa klop dengan Desmosedici, butuh 3 tahun untuk mengerti apa yang diinginkan oleh motornya, setelah 3 tahun barulah ia mulai paham dengan karakter motornya, ia nyaris menjadi juara dunia tahun 2017 menantang Marquez di gelaran pamungkas di Valencia, ia harus merelakan juara dunia disabet oleh Marc ketika ia tersungkur di race krusial ini. tak pelak nickname nya berubah menjadi DesmoDovi karena mampu menjinakkan kuda besi dari Ducati itu.


Seri 2018 masih seperti musim lalu sempat terseok di paruh perama ia kembali menjadi menantang terkuat dari petahanan Marc setelah bangkit di paruh musim kedua namun lagi lagi ia tidak dapat mempertahankan konsistensinya di saat saat krual dan ia lagi lagi tersungkur di motegi dan lagi juga merelakan juara dunia dengan erat digemgam oleh Marc Marquez. namun ia merasaka bahwa tahun ini lebih kompetitif daripada tahun sebelumnya gaez.

Ducati bisa dikatakan telat panas, baru di paruh musim kedualah ducati beringas dengan duet Dovi-Lorenzo, faktor kompetitifnya Ducati tak lepas pula dari peran Lorenzo, ia sempat di sorot bahwa masanya sudah habis namun ia membuktikan bahwa hanya dalam rentan  satu setengah musim ia bisa menjinakkan Desmodovi, potensi yang luar biasa yng dimiliki Lorenzo, satu kemenangan tambahan di Austria, dan tiga pole position. Finis kedua di Brno, lalu  ketiga di Austria, bertarung dengan Marc Marquez.


Duet ciamik dari dua rider Ducati ini menebar ancaman bagi Marc, dan sangat disayangkan bahwa keberuntukngan masih enggan berpihak pada Ducati,Lorenzo mengalami kecelakan parah di Aragon dan harus menepi selama sisa seri selanjutnya, walaupun ia bisa mengikuti di seri sisa namun ia haya sebagai penggembira saja, dikarenakan cideranya belum sembuh total, praktis Ducati mengejar Honda dengan berlari satu pijakan kaki.

Nah kesimpulan yang bisa saia ambil adalah Ducati bisa tampil sangat kompetitif dan bisa mengungguli Yamaha sebagai penantang perebutan gelar juara adalah dari faktor rodernya yang sudah mulai seirama dengan motor tunggangannya, walaupun dikatakan telat panas karena baru paruh kedua bisa menebar ancaman yang nyata, kemudian dari segi pengembangan motor dengan kehadiran Lorenzo ducati menyentuh area yang mungkin belum tersentuh oleh mereka, seperti modifikasi tangki bahan bakar, dibarengi dengan beberapa update kecil dari Borgo Panigale memberi Lorenzo kemenangan beruntun di Mugello dan Catalunya.

Yang jadi catatan penting adalah, telatnya respon dari keluhan ridernya untuk langsung di analisa oleh Ducati, bayangkan jika ini sudah terjadi pada awal awal seri, tak ayal The Baby Alien akan bersusah payah menahan gempuran sengit dari duet Ducati ini,... 

Danke,...
Read more