17 December 2015

Penelitian Ini Mengungkap Bahwa Tanaman Dapat Berbicara dan Membaca Pikiran Loh

Penelitian baru yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of Western Australia (UWA) menunjukkan bahwa tanaman memiliki memori jangka panjang. Hal ini menambah wawasan bagi badan penelitian yang telah membuktikan bahwa tanaman memiliki proses mental tingkat tinggi, termasuk kemampuan untuk merasakan takut dan bahagia, kemampuan berkomunikasi, bahkan kemampuan untuk membaca pikiran Anda.

Sebuah artikel di media Economist yang menulis tentang penelitian memori tanaman, mengutip pernyataan Pangeran Charles bahwa ia pernah berbicara dengan tanaman, dan mereka meresponnya. Begitu artikel tersebut diterbitkan, Pangeran Charles menghadapi beberapa ejekan atas pernyataannya itu, tapi mungkin ia akan segera mendapatkan dukungan yang membenarkannya.

Berikut ulasan lebih mendalam terhadap kemampuan pikir tanaman.


1. Penelitian baru: Tanaman memiliki memori jangka panjang


Dr. Monica Gagliano memimpin tim penelitian UWA, yang diterbitkan dalam jurnal Oecologia.

Dia dan timnya menjatuhkan pot tanaman Mimosa pudica (tanaman putri malu) ke bantalan busa dari suatu ketinggian yang akan mengejutkan tanaman tersebut, tetapi tidak melukainya. Tanaman Mimosas dipilih karena sifatnya yang unik: mereka akan menutup daunnya ketika merasa terancam, sehingga mudah untuk mengamati reaksi mereka terhadap rangsangan secara langsung.

Apa yang peneliti ingin ketahui adalah apakah tanaman mampu belajar bahwa kejutan itu tidak akan menyakiti mereka. Peneliti juga ingin melihat apakah tanaman bisa mengingat fakta tersebut selama beberapa jangka waktu.

Tanaman Mimosas berhenti bereaksi setelah beberapa kali pengujian, hal ini menunjukkan bahwa mereka telah mengetahui aksi tersebut tidaklah membahayakan. Namun para peneliti harus memastikan lagi bahwa reaksi tersebut bukanlah akibat tanaman yang telah kelelahan sehingga tidak mampu untuk bereaksi lagi; lalu peneliti melakukan rangsangan yang berbeda dimana tanaman langsung bereaksi.

Pengujian dilakukan di beberapa tanaman di berbagai periode waktu

Beberapa tanaman dibiarkan selama 28 hari setelah pengujian awal beberapa kali. Setelah melewati sekian hari, ternyata tanaman masih bisa mengingat pelajaran yang telah mereka dapatkan dan tidak bereaksi terhadap penjatuhan itu lagi, meskipun terhadap rangsangan lainnya mereka masih bereaksi.

Bagaimana tanaman berpikir tanpa memiliki otak?

Meskipun tanaman tidak memiliki otak dan sistem saraf yang ditemukan pada organisme lain dengan kemampuan mental yang lebih tinggi, para peneliti mulai berhipotesis dengan sistem-sistem alternatif. Sebagai contoh media Economist menjelaskan, tanaman memiliki jalur yang terbentuk dengan baik dimana mereka dapat mengirimkan informasi dalam bentuk sinyal listrik.

2. Tanaman punya perasaan

Almarhum Cleve Backster membuat sebuah penemuan mengejutkan pada tahun 1966, yang mengawali tren orang-orang berbicara dengan tanaman hiasnya.

Cleve Backster adalah mantan spesialis detektor kebohongan milik CIA yang mengembangkan teknik poligraf dan masih umum digunakan hingga hari ini oleh militer dan lembaga Pemerintah AS. Dia melakukan percobaan pada tanaman hias hangjuang atau suji (Dracaena) yang ditulis secara rinci dalam buku The Secret Life of Plants.

Dia punya dua pot tanaman Dracaena dan menghubungkan salah satu tanaman itu dengan detektor kebohongan (lie detector). Lalu dia menyuruh seseorang untuk menginjak-injak tanaman lainnya. Ketika tindakan ini dilakukan, poligraf tanaman yang menyaksikan adegan tersebut grafiknya melonjak menunjukkan ketakutan.

Lantas Cleve menguji lebih lanjut. Tanaman yang ketakutan tersebut diuji lagi. Beberapa orang masuk ke dalam ruangan tempat tanaman itu berada, termasuk diantaranya orang yang telah menginjak tanaman lain. Poligraf tidak menunjukkan reaksi terhadap orang lain, tetapi ketika orang yang telah menginjak tanaman memasuki ruangan, ia kembali menunjukkan rasa takut. Tampaknya ia bisa mengenali orang tersebut.

Cleve juga menemukan tanaman mengalami kebahagiaan ketika disirami air, dan bahkan memiliki kemampuan untuk membaca pikiran manusia.

3. Tanaman bisa membaca pikiran

Suatu ketika, saat Cleve memikirkan apa percobaan berikutnya, ia memikirkan akan membakar daun tanaman ini untuk melihat reaksinya. Begitu ia memiliki pemikiran yang merugikan tanaman tersebut, poligraf menunjukkan tanaman bereaksi ketakutan.

Temuan Cleve Backster telah direproduksi oleh peneliti lain, termasuk ilmuwan Rusia Alexander Dubrov dan Marcel Vogel, yang bekerja di IBM pada saat melakukan studinya.

4. Tanaman bisa berbicara

Komunikasi tanaman adalah bidang yang dikembangkan dari studi ini. Dr. Monica Gagliano telah melakukan penelitian terbaru pada topik tersebut. Dalam makalah penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Oxford pada tahun 2012, Dr. Monica menjelaskan, ia telah lama mengetahui bahwa tanaman menghasilkan gelombang suara.

Banyak yang mengira bahwa gelombang suara ini memang kebetulan dihasilkan dari reaksi tanaman terhadap dehidrasi (kekeringan), bukan komunikasi yang disengaja. Akan tetapi Dr. Monica tidak begitu yakin.

Dia melihat cara tanaman berkomunikasi. Proses ini dipahami secara luas yang menciptakan gelombang suara disebut kavitasi. Ini terjadi ketika tanaman mengalami dehidrasi dan kolom air tertekan. Dr. Monica mengatakan, bagaimanapun juga “sinyal akustik yang dipancarkan oleh tanaman begitu banyak, akan tampak sangat tidak mungkin bahwa setiap peristiwa akustik ini disebabkan oleh kavitasi saja … pada kenyataannya, bukti terbaru sekarang menunjukkan bahwa tanaman menghasilkan suara secara independen dari dehidrasi dan kavitasi yang terkait proses.”

Dia mengutip penelitian yang menunjukkan beberapa gelombang suara dapat dibuat oleh sistem gelembung yang stabil dari saluran xilem.

“Meskipun mekanisme proksimat dan akhir yang digunakan hewan untuk merasakan lingkungannya dan berkomunikasi satu sama lain telah lama menjadi topik yang sangat menarik kalangan ilmiah, studi komunikasi tanaman memang ada, tetapi masih tidak maju dan diakui,” tulis Dr. Monica. “Hal ini terutama terjadi pada bioakustika tanaman; dan itu mengejutkan, ketika kita mempertimbangkan bahwa kemampuan untuk merasakan suara dan getaran adalah modalitas sensorik kuno filogenetis dibelakang organisasi perilaku semua organisme hidup dan hubungan mereka dengan lingkungannya.”

5.Tanaman bisa membaca pikiran melalui jarak jauh

Marcel Vogel adalah seorang ilmuwan senior di IBM selama 27 tahun, dalam kurun waktu tersebut, dia telah mematenkan lebih dari 100 penemuan. Ketika telah menjalani separuh waktu kariernya, ia menjadi tertarik pada aplikasi yang lebih organik dari pengetahuan ilmiah. Pada akhir penelitian ini adalah penemuan yang mengejutkan, bahwa tanaman tidak hanya bisa membaca pikiran orang, tapi mereka bisa melakukannya melalui jarak yang jauh, dan banyaknya perhatian yang diberikan orang kepada tanaman dapat memengaruhi kemampuan tanaman untuk merasakan alam pikiran seseorang.

Dia membaca sebuah percobaan yang dilakukan oleh Cleve Backster, yang penelitiannya telah mendorong orang berbicara dengan tanaman hiasnya pada tahun 1970-an.

Dengan menggunakan detektor kebohongan, Cleve Backster menemukan bahwa tanaman dapat menanggapi tindakan dan pikiran manusia dengan sinyal perasaan bahagia ataupun takut secara tepat.

Ketika Marcel Vogel membaca karya tulis Cleve, dia berpikir percobaan tersebut pasti cacat, dan itu tidak benar. Lantas Marcel mengujinya. Mantan rekan penelitian Marcel, Dan Willis, menjelaskan percobaan tersebut di situs web MarcelVogel.org.

Marcel menghubungkan antara tanaman dan Jembatan Wheatstone, yakni sirkuit yang dapat menguji arus listrik. Ketika Marcel mulai membersihkan pikiran dan bernapas secara perlahan, tanaman itu tidak menunjukkan reaksi. Ketika ia menghentakkan napas melalui lubang hidung dan mulai berpikir di benaknya, tanaman merespon secara dramatis.

Selanjutnya, Dan Willis menulis: “Reaksi tanaman terhadap pemikiran tersebut juga sama tak peduli apakah berjarak 8 inci, 8 kaki, ataupun 8.000 mil, ia juga membuktikan dari Praha, Cekoslovakia (sekarang Republik Ceko) , ke laboratoriumnya di San Jose, di mana ia mampu memengaruhi tanaman yang terhubung ke perekam.”

Ketika dua tanaman diuji coba sekaligus untuk melihat bagaimana reaksinya ketika melihat orang lain terluka (teriris, terbakar), Marcel melihat bahwa reaksi tanaman akan bervariasi sesuai dengan seberapa banyak perhatian yang ia curahkan pada tanaman tersebut. Kemudian Marcel menyadari bahwa pikiran ilmuwan dapat memengaruhi eksperimen tersebut.

Dan Willis menulis: “Inilah salah satu alasan mengapa penyelidikan ilmiah tertentu di bidang energi halus tidak dapat segera direplikasi. Hal ini tidak selalu soal protokol ilmiah, akan tetapi soal hubungan.”

“Sayangnya, banyak peneliti akan menganggap hal ini menjadi semacam hal yang tidak penting dan mungkin mengganggu epiphenomena. Meskipun orang tersebut adalah ilmuwan, menurut Marcel, para teknisi sendiri mencoba untuk membuktikan apa yang sudah mereka pikir itu benar.” (erabaru)
Load disqus comments

0 komentar