Per Januari 2016 Smartphone Lawas Tidak akan Bisa Akses Internet

Metode otentikasi keamanan ponsel akan diperbarui pada 1 Januari 2016, imbasnya ponsel jadul yang berusia lebih lima tahun mungkin tidak bisa masuk ke situs yang terenkripsi, dan diperkirakan sekitar 40 juta penguna di seluruh dunia akan kena dampaknya.

Mulai 1 Januari 2016, pengguna ponsel ‘jadul’ yang berusia lebih dari lima tahun tidak akan bisa lagi mengakses situs terenkripsi seperti Facebook, Twitter dan Google, karena metode otentikasi keamanan pada situs-situs ini akan diperbarui. Diperkirakan ada sekitar 40 juta orang di dunia akan kena imbasnya, dan Tiongkok akan menjadi negara yang paling besar dampaknya.

Melansir laman BuzzFeed, karena algoritma sandi SHA-1 yang digunakan sebagai otentikasi keamanan ponsel saat ini dianggap sudah tidak aman lagi, sehingga kalangan industri akan menggantinya dengan SHA-2 sebagai versi pembaruan pada 1 Januari 2016 mendatang. Tetapi versi baru ini tidak kompatibel dengan ponsel jadul, dan ini akan menyebabkan pencabutan hak pengguna ponsel jadul yang akan mengakses internet.

Sebuah alamat URL biasanya diawali dengan https, dan di depan URL terdapat sebuah ikon kunci warna hijau, adalah situs yang telah disertifikasi keamanannya, dan yang mewakili log in browser pengguna itu adalah situs resmi/asli, bukan situs palsu. Namun, ponsel yang belum diperbarui dengan versi pembaruan SHA-2 tidak akan bisa menelusuri situs-situs ini.

Bagi penduduk New York dan kota-kota besar lainnya, ponsel jadul yang berusia lebih dari lima tahun itu mungkin telah menjadi barang antik. Namun, bagi penduduk di negara-negara berkembang, masih bahyak yang menggunakan ponsel jadul. Hasil studi CloudFlare, sebuah perusahaan keamanan internet di California, AS, menyebutkan, bahwa mungkin sekitar 7% pengguna internet di beberapa negara berkembang ini tidak akan bisa lagi mengakses internet mulai 1 Januari 2016.

Data penelitian dari CloudFlare Inc menunjukkan, bahwa setelah proses sertifikasi keamanan ponsel diperbarui dari SHA-1 ke SHA-2, diperkirakan negara-negara yang paling besar kena dampaknya adalah Tiongkok, Kamerun dan Yaman, di negara-negara ini, pembandingan pengguna ponsel yang tidak didukung SHA-2 masing-masing 6.08%, 5,39% dan 5,25%.

Dalam sebuah blog post, Alex Stamos, Chief Security Officer Facebook menuliskan, “Kami rasa melarang puluhan juta orang untuk mengakses internet terenkripsi – terutama karena perangkat yang mereka gunakan tidak kompatibel dengan sertifikat SHA-2- bukanlah tindakan yang benar.”

“Banyak perangkat yang sudah berumur yang masih digunakan di negara-negara berkembang oleh orang-orang yang baru saja mengenal internet. Kita juga harus membuat solusi keamanan dan privasi untuk orang-orang ini, bukannya membuat mereka semakin kesulitan untuk menggunakan internet dengan aman.”

Beberapa perusahaan, seperti Mozilla, mengakui setelah mereka mulai menggunakan sertifikat SHA-2, mereka mengalami penurunan jumlah pengunduh. “Setelah mulai menggunakan SHA-2, kami kehilangan 1 juta pengunduh, ujar Chris More, Web Production Manager Mozilla.

Menghadapi masalah SHA-1 yang akan segera kadaluwarsa, para ahli menyerukan solusi terbaik, untuk melindungi hak pengguna ponsel jadul. Sementara itu, ClouFlare dan Facebook sekarang telah mengusulkan untuk memperpanjang masa penggunaan SHA-1, untuk membahas solusi yang lebih sempurna. (Jhon/asr)

Post a Comment