Mbah Tumirah,Lebih Berharga Daripada Meminta-Minta


“Saya nggak mau merepotkan orang. Kalau masih bisa cari makan sendiri lebih baik berusaha.” Kalimat itu tertulis tepat di samping foto nenek renta. Perempuan uzur itu terkulai lemas. Bersandar motor. Di depannya, teronggok keranjang berisi kacang.

Wanita dalam foto itu adalah Mbah Tumirah. Foto itu dibincangkan banyak orang setelah akun @ketimbang.ngemis mengunggahnya ke Instagram. Foto dan kisah hidup wanita berusia lebih dari seabad ini didapat dari media nasional.

Foto nenek asal Sosrowijayan, Yogyakarta, ini menggetarkan. Di usia serenta itu, dia tak mau menyerah. Dia tetap berjuang untuk hidup. Dengan berdagang kacang kering di pasar. Semua pengunjung akun @ketimbang.ngemis pun trenyuh. Hati mereka takjub atas kegigihan Mbah Tumirah.

“Itu kisah luar biasa,” kata Yona Luverine, yang berkunjung ke akun @ketimbang.ngemis, pada awal Juni yang lalu.

Foto-foto di akun itu rupanya membetot perhatian dara kelahiran Bandung ini. Jemari lentik gadis kelahiran 8 November 1995 ini terus menari di layar ponsel. Menelusur foto-foto lain yang diunggah akun @ketimbang.ngemis.

Rasa penasaran Yona membuncah saat matanya terkunci pada tulisan lain di akun ini. Mata terus dipaku ke layar. Mulut komat-kamit. Melafal kalimat, “Say no to mengemis.” Kalimat itu berada di bagian atas halaman @ketimbang.ngemis.

Penasaran, Yona menulis komentar di samping foto Mbah Tumirah yang tadi dia lihat. Dia bertanya kepada sang pemilik akun tentang foto-foto yang memenuhi Instagram itu. “Itulah awal perkenalan saya dengan Rizky Pratama Wijaya, pembuat akun itu,” kenang Yona saat ditemui Dream, Jumat pekan lalu.

Gadis berhijab ini kemudian berkomunikasi dengan Rizky melalui Instagram. Dia bertanya, apa tujuan Rizky membuat akun @ketimbang.ngemis? Mengapa foto yang diunggah kebanyakan pedagang tua? Dan kenapa pula Rizky menulis tagline “Say no to ngemis” di akun itu?

Melalui percakapan online itu, Yona mendapat jawaban. Akun itu sengaja dibuat untuk mengunggah foto para pedagang kecil yang inspiratif. Melalui foto-foto itu, Rizky mengajak penguna media sosial untuk membeli barang dagangan mereka. Sebagai bentuk apresiasi atas semangat para pedagang yang memilih berjualan ketimbang mengemis.

Dan Yona merasa tertarik dengan konsep Rizky ini. “Dia ingin ngasih semangat ke anak muda untuk membantu, makanya saya gabung,” ujar mahasiswi yang tinggal di Jakarta ini. Diskusi Yona dengan pemuda Yogyakarta ini terus berlanjut. Melalui Instagram dan juga Line.

***

Seminggu usai perkenalan dengan Rizky, Yona membentuk komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta (KNJ). Hari itu, Kamis 18 Juni 2015. “Mas Rizky mendukung siapa saja yang mau bikin Ketimbang Ngemis regional. Yang penting lapor dulu ke dia agar terkoordinir saja.”

Saat itu pula Yona membuat akun @ketimbang.ngemis.jakarta di Instagram. Semula Yona hanya sendiri. Memfoto pedagang kecil inspiratif yang ditemui dan mengunggahnya ke Instagram. Di samping foto, Yona membubuhkan ajakan untuk membeli dagangan para penjual itu. Sama persis dengan yang dilakukan Rizky pada akun @ketimbang.ngemis.

Semula, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Yona. Namun kemudian dia mengajak pengguna media sosial di Jakarta untuk bergabung. Dan rupanya, ajakan itu bersambut. Sejumlah netizen antusias menerima ajakan Yona. “Sekarang volunter kami yang aktif 60 orang. Banyak yang tanya kapan kami merekrut anggota lagi,” ucap Yona.

Tak ada kantor. Tak ada anggaran pula. Semua dilakukan secara suka rela. Koordinasi melalui media sosial. Pertemuan pun digelar di taman-taman ibukota. Dengan personel itu, akun @ketimbang.ngemis.jakarta semakin dibanjiri foto pedagang-pedagang kecil yang inspiratif.

Lambat laun, keberadaan komunitas ini bergaung di ibukota. Banyak netizen yang berkunjung ke Instagram mereka. Sebagian besar memberi dukungan. Melalui komentar pada setiap foto yang diunggah, para netizen menyatakan siap membantu para pedagang itu melalui komunitas yang dibesut Yona ini.

Dari berbagai saran di Instagram, KNJ membuka rekening. Mereka menampung donasi untuk disalurkan kepada para pedagang yang menjadi target mereka. “Kami buat rekening atas nama bendahara. Kemudian kami share, yang mau donasi bisa kirim ke rekening itu,” ujar Yona.

Yona dan kawan-kawan juga membagi 60 personel ke dalam lima divisi. Ada tim eksekutor lapangan, humas, perekrut anggota, pencari dana, dan juga dokumentasi. Kelima tim ini bahu membahu. Dari jagat maya, mereka bergerak menggalang bantuan untuk para pedagang kecil di jalanan.

Pembagian tim itu membuat komunitas KNJ makin tertata. Mereka berkumpul saban awal bulan. Membahas rencana untuk 30 hari ke depan. Dalam pertemuan itu, mereka juga membahas para pedagang yang akan menerima bantuan. “Kami pilih 10 target prioritas. Minggu ke empat kami salurkan donasi.”

KNJ punya kriteria khusus untuk pedagang yang akan menerima bantuan. Mereka memilih pedagang tua. Berusia lebih dari 60 tahun. Pedagang di bawah usia itu bisa mendapat bantuan, tapi yang punya kekurangan fisik. “Ada pula anak kecil, tapi yang tidak mempunyai tempat tinggal dan dari keluarga tidak mampu,” ujar Yona.

Tak mudah menemukan pedagang sesuai kriteria. Mereka harus berselancar di dunia maya. Mencari-cari info tentang pedagang inspiratif di seputaran Jakarta. Tak jarang mereka menyusuri jalanan, mencari sasaran yang pas. “Kami pernah menungu tiga jam, tapi ternyata pedagang yang akan kami bantu tak muncul,” kata Yona.

Hampir saban hari anggota komunitas ini bergerak. Baik di media sosial maupun di jalanan ibukota. Tak hanya mencari pedagang yang masuk kriteria, mereka juga giat menghubungi beberapa kalangan. Menggalang dana. “Sekarang ada tiga donatur tetap. Tiap minggu memberi sumbangan.”

***

Hingga saat ini, kata Yona, KNJ telah beberapa kali menyalurkan bantuan. Jumlahnya berbeda-beda. “Sampai saat ini sudah proyek ke-4. Sudah 35 orang yang kami bantu,” tutur dia.

KNJ, tambah dia, terus menata komunitas ini. Termasuk merumuskan bagaimana sistim bantuan yang akan diberikan agar lebih tepat sasaran. “Kami baru menerapkan teknis gimana kita ngasih sesuatu tapi buat umpannya saja, misalnya buat modal usaha. Tapi itu baru akan dilakukan di 2016,” imbuh Yona.

Lebih baik memberi kail daripada ikannya. Pepatah itulah yang dipegang KNJ. “Misalnya ada ibu-ibu yang jualan di emperan toko gitu, kami bisa bantu bikinin grobak. Tahun 2016 mau menerapkan seperti itu, mudah-mudahan saja,” tambah Yona.

Ya, Jakarta hanya satu contoh saja. Selain Jakarta, komunitas ini juga tumbuh di daerah lain. Terutama kota-kota besar Tanah Air. Setelah Jakarta, kelompok ini muncul di Bandung, Semarang, Surabaya, dan daerah lainnya. “Kami bikin grup Line di tiap daerah. Siapa yang dari daerah mana, mari kita gabung di situ.”(dream.co.id)

Post a Comment